Malang, 14 Mei 2025 – Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sukses menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu dengan tema “Tantangan dan Proyeksi Lulusan MPI: Langkah Strategis Menyambut Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Saintek Lantai IV dan dihadiri oleh seluruh mahasiswa MPI semester 2 sebagai agenda akademik wajib.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dr. Muhammad Walid, M.A, yang mewakili Dekan FITK UIN Malang. Dalam sambutannya, beliau menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda menuju bonus demografi Indonesia tahun 2045. “Jika Indonesia pada saat itu dihuni oleh generasi usia produktif yang unggul, maka negara ini akan menjadi kekuatan besar dunia. Namun, jika tidak, maka kita akan menghadapi tantangan serius,” tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut kesiapan kompetensi generasi muda. Adapun empat kompetensi utama yang harus dimiliki adalah:
- Kemampuan problem solving,
- Kreativitas dan inovasi,
- Kemampuan komunikasi (baik formal maupun non-formal), dan
- Kemampuan bekerja dalam tim (teamwork) dan kolaborasi lintas bidang.
Sebagai narasumber utama, hadir Dr. H. Ruchman Basori, M.Ag, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam pemaparannya, beliau mengangkat realitas dan tantangan pendidikan nasional, khususnya dalam konteks PTKIN.
Beliau menegaskan bahwa tingginya IPK tidak menjamin kesuksesan, melainkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang justru menjadi kunci keberhasilan di dunia nyata. “IPK saya 3,7, tapi saya percaya kesuksesan itu lebih ditentukan oleh bagaimana kita mengelola emosi dan beradaptasi dengan lingkungan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dr. Ruchman menyoroti kesenjangan pendidikan di Indonesia, baik dari segi akses maupun kualitas. Ia mengangkat kisah inspiratif dari novel Laskar Pelangi sebagai gambaran nyata bagaimana keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan di banyak daerah.
Beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud jika beberapa syarat dipenuhi: hilangnya korupsi, pemberantasan narkoba, dan hadirnya generasi produktif yang mampu membawa perubahan positif. Visi besar Indonesia mencakup pengurangan kemiskinan, peningkatan daya saing SDM, serta penguatan karakter kebangsaan dan religiusitas yang bisa menjadi panutan bagi negara-negara lain.
Untuk menjawab tantangan tersebut, beliau mendorong mahasiswa MPI untuk terus meningkatkan daya saing SDM melalui pendidikan lanjutan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, salah satu indikator kemajuan revolusi industri adalah hilangnya beberapa profesi tradisional dan lahirnya profesi baru berbasis digitalisasi, yang menuntut fleksibilitas dan pembaruan keterampilan secara berkelanjutan.
Dalam konteks pendidikan tinggi Islam (PTKIN), beliau juga memaparkan beberapa tantangan besar yang harus diantisipasi, yaitu:
- Perubahan demografi,
- Perubahan pasar kerja dan jenis profesi,
- Perkembangan teknologi informasi,
- Meningkatnya potensi intoleransi, dan
- Dinamika politik identitas yang memengaruhi iklim akademik.
Kuliah tamu ini dimoderatori oleh Abdul Fattah Wahab, M.Pd, dosen Prodi MPI, yang memandu sesi diskusi secara dinamis dan interaktif.Kegiatan ini menjadi langkah konkret Prodi MPI dalam membekali mahasiswa dengan wawasan strategis, memperluas cakrawala berpikir, serta memotivasi mereka untuk menjadi lulusan yang siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.





